Ilustrasi. (Foto: MI/Panca Syurkani).
Jakarta: Bank Indonesia (BI) berharap fundamental ekonomi domestik yang cukup kuat dapat membantu penguatan nilai tukar rupiah yang sedang bergejolak. Hal itu seiring dengan data pergerakan rata-rata harian rupiah yang telah melemah di Maret 2018.
Menurut Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo, pelemahan rupiah terhadap dolar AS (USD) banyak dipengaruhi oleh keadaan eksternal, khususnya dinamika politik dan ekonomi yang terjadi di Amerika Serikat (AS).
"Tetapi kalau kita melihat kekuatan domestik, masih cukup baik. Kami melihat inflasi juga masih rendah, kita masih ekspor di bulan terakhir kalau melihat trade balance kita. Beberapa hal masih menahan kuatnya rupiah," ungkap Dody, ditemui di Gedung BI, Jakarta, Jumat, 20 April 2018.
Dia mengaku, tekanan eksternal yang cukup besar telah banyak menekan mata uang di kawasan regional. Meski demikian, semua itu bisa dihalangi dengan kekuatan yang dimiliki domestik.
Sedangkan persoalan domestik yang perlu dicermati, sambung dia, terkait risiko neraca defisit transaksi berjalan. "Pelemahan itu didorong impor bahan baku dan barang modal. Artinya, itu konsekuensi dari ekonomi yang bergerak," jelas Dody.
Tak hanya itu, dia menekankan, risiko peningkatan inflasi juga harus diwaspadai dengan baik. Sebab, harga minyak dimungkinkan bisa mengalami peningkatan terus menerus.
"Tetapi, rencana pemerintah tidak menaikkan BBM bersubsidi juga menjadi poin untuk menjaga daya beli," pungkas Dody.
(AHL)
No comments:
Post a Comment