Illustrasi. MI/Atet Dwi Pramadia.
Jakarta: Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menginginkan nilai tukar rupiah terjaga di level Rp13.700 per USD. Pasalnya mata uang Garuda terus anjlok hingga mendekati Rp14.000 per USD dalam sepekan terakhir.
Ketua Umum Kadin Rosan P Roeslani mengatakan para pengusaha akan nyaman dalam menentukan rencana bisnis ke depan bila rupiah bisa dikendalikan di level Rp13.700 per USD.
"Kalau pengusaha mereka lebih kestabilan mata uang kalau fluktuasi kan kita susah buat planning. Kalau sekarang kita harapkan Rp13.500 per USD lagi rasanya berat tapi akan lebih baik di Rp13.700 per USD," katanya di Hotel Shangri-La, Jakarta, Rabu, 25 April 2018.
Menurutnya depresiasi rupiah bakal meningkatkan beban utang swasta maupun utang pemerintah. Namun utang pemerintah diharapkan dipakai untuk hal produktif bukan sekadar menambal anggaran.
"Pasti ada tekanan untuk utang swasta dan pemerintah," imbuh dia.
Rosan menambahkan sebaliknya depresi rupiah justru menguntungkan pengusaha yang bergerak di bidang ekspor. Misalnya 75 persen penjualan batu bara menggunakan dolar, sedangkan harganya dalam bentuk mata uang rupiah.
"Kalau bicara sama teman di batu bara kalau bisa Rp14.000 per USD, 75 persen berjualan dalam dolar dan biayanya dalam rupiah," pungkas Rosan.
Seperti diketahui, nilai tukar nyaris mencapai Rp14.000 per USD. Rupiah mengalami pelemahan tajam hingga sepekan terakhir. Pelemahan terus berlanjut hingga Rabu, 25 April 2018 yang dibuka di level Rp13.900 per USD. Hal itu menimbulkan kekhawatiran rupiah dapat menembus batas psikologis.
(SAW)
No comments:
Post a Comment