Ilustrasi (AFP PHOTO/Bryan R. Smith)
Frankfurt: Potensi koreksi di pasar keuangan menjadi sesuatu yang membuat Wakil Presiden European Central Bank (ECB) Vitor Constancio terjaga di malam hari, usai membahas laporan Financial Stability Report (FSR) yang baru-baru ini dirilis. Salah satu yang menjadi perhatian adalah ketika imbal hasil surat utang Pemerintah Amerika Serikat (AS) 10 tahun meningkat.
"Risiko utama dalam FSR adalah koreksi di pasar keuangan, khususnya di pasar obligasi. Dan ini akan datang mungkin dari AS di mana imbal hasil obligasi 10 tahun meningkat dan menyentuh tiga persen," ungkap Vitor Constancio, seperti dikutip dari CNBC, di Frankfurt, Sabtu, 26 Mei 2018.
"Itu memiliki konsekuensi dan tentu saja untuk nilai tukar dolar yang kemudian memengaruhi pasar negara berkembang. Itu adalah risiko utama untuk stabilitas keuangan di seluruh dunia, dengan konsekuensi untuk wilayah euro juga," tambahnya.
Imbal hasil obligasi treasury AS terus meningkat ke tertinggi multi tahun sebagai antisipasi kenaikan suku bunga acuan oleh Federal Reserve sebagai bagian dari rencana normalisasi kebijakannya. Akibatnya di Mei telah terlihat USD mencapai serangkaian level tertinggi atau naik 4,2 persen sejak akhir kuartal pertama terhadap sekeranjang enam mata uang utama.
USD yang lebih kuat berarti peminjaman dan pembiayaan yang lebih mahal untuk pasar negara berkembang, terutama yang memiliki jumlah utang dolar dalam jumlah besar. Dan pengamat pasar khawatir bahwa bangunan yang dijual di pasar negara berkembang mengganggu pertumbuhan global yang disinkronkan pada tahun lalu.
"Kami prihatin dengan dampak keseluruhan ini yang dapat memicu ketidakstabilan keuangan," kata Constancio, yang juga merupakan ekonom Portugis dan telah menjabat sebagai Wakil Presiden ECB sejak 2010, menjadi salah satu anggota terlama dalam sejarah bank sentral.
(ABD)
No comments:
Post a Comment