PM Haider al-Abadi (kanan) bersama pemimpin Syiah Irak Muqtada al-Sadr. (Foto: AFP)
Baghdad: Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi dan pemimpin Syiah Muqtada al-Sadr sepakat beraliansi dalam upaya menciptakan pemerintahan baru. Pengumuman ini terjadi menyusul ketegangan politik selama berpekan-pekan setelah berlangsungnya pemilihan umum parlementer bulan lalu.
Aliansi Sairoon yang menaungi Sadr memenangkan 54 kursi dalam pemungutan suara, yang menjadikannya blok terbesar dengan 329 kursi di parlemen Irak. Sementara aliansi Abadi -- yang awalnya diprediksi unggul -- berada di posisi ketiga dengan 42 kursi.
Sesudah pertemuan tiga jam pada Sabtu 23 Juni 2018 di kota suci Syiah Najaf, kedua tokoh mengeluarkan pernyataan bersama. Mereka mengumumkan telah membentuk sebuah koalisi.
Abadi dan Sadr mengatakan, aliansi ini akan "mengatasi isu-isu sektarianisme dan etnis" demi mempercepat pembentukan pemerintahan baru dan menyepakati prinsip-prinsip yang melayani aspirasi rakyat."
"Kami mengumumkan aliansi lintas-sektarian, lintas-etnis guna mempercepat pembentukan pemerintah berikutnya dan untuk menyetujui pelbagai urusan umum yang menjamin kepentingan rakyat Irak," kata Sadr dalam konferensi pers, seperti dinukil dari Al Jazeera, Minggu 24 Juni 2018.
Sadr, yang pernah memimpin kampanye kekerasan terhadap pendudukan Amerika Serikat (AS) yang berakhir pada 2011, telah muncul sebagai seteru nasionalis dari partai-partai Syiah.
Pemungutan suara Irak pada 12 Mei lalu mencetak sejarah karena tingkat keikutsertaan yang rendah serta adanya dugaan kecurangan.
(WIL)
No comments:
Post a Comment