peneliti LSI Denny JA, Adjie Alfaraby. Foto: Medcom.id/Achmad Zulfikar Fazli.
Jakarta: Tingkat elektabilitas Presiden Joko Widodo pasca Pilkada 2018 cenderung meningkat. Namun, peningkatan itu tak signifikan.
Hal itu terungkap dari survei yang dilakukan Lembaga Survei Indonesia (LSI) Denny JA, elektabilitas Jokowi pada Mei 2018 sebesar 46 persen. Pada Juli 2018 meningkat menjadi 49,30 persen.
"Ada tren kenaikan elektabilitas Jokowi. Meski elektabilitasnya masih di bawah 50 persen," kata peneliti LSI Denny JA, Adjie Alfaraby dalam rilis survei bertema 'Pasangan Capres dan Cawapres Pasca Pilkada' di Kantor LSI Denny JA, Jalan Pemuda, Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa, 10 Juli 2018.
Namun, Adjie mengingatkan elektabilitas Jokowi belum aman. Sebagai petahana, elektabilitas Jokowi seharusnya berada di angka 50 persen.
Baca: Survei: Jokowi Menang Telak dari Prabowo
Di sisi lain, elektabilitas lawan-lawan Jokowi cenderung stagnan. Pada Mei 2018, elektabilitas lawan Jokowi berada di angka 44,70 persen. Naik sebesar 0,5 persen pada Juni 2018 menjadi 45,20 persen.
"Elektabiliras di atas adalah gabungan elektabilitas semua tokoh yang muncul," ucap dia.
Adjie menjelaskan, pemilih yang belum menentukan pilihan mengecil dari 9,3 persen pada Mei 2018, menjadi 5,5 persen pada Juli 2018. Sedangkan, total pemilih yang masih bisa dipengaruhi atau swing voter sebesar 37,5 persen.
Survei ini dilakukan pada 27 Juni-5 Juli 2018, dengan jumlah responden 1.200 orang. Metode yang digunakan ialah sampling multistage random sampling dan margin off error 2,9 persen.
(FZN)
No comments:
Post a Comment