Rechercher dans ce blog

Saturday, August 25, 2018

Hubungan Putus-Nyambung Tak Baik untuk Kesehatan Mental

Jakarta: Status putus-nyambung dalam hubungan romansa ternyata berpengaruh buruk pada kesehatan mental, demikian menurut sebuah studi yang dipublikasi dalam jurnal Family Relations.

"Putus dan kembali bersama tidak selalu menjadi pertanda buruk bagi pasangan," kata Kale Monk, asisten profesor pengembangan manusia dan ilmu keluarga di University of Missouri.

Bahkan, bagi beberapa pasangan, putus dapat membantu para pasangan menyadari pentingnya hubungan mereka, berkontribusi pada hubungan yang lebih sehat dan lebih berkomitmen.

Tetapi bagaimana dengan pasangan yang berakhir dengan pola rutin putus dan kembali bersama? Faktanya, siklus semacam ini terkait dengan peningkatan risiko efek kesehatan yang merugikan dalam kehidupan nyata.

Sebuah penelitian melibatkan 545 orang dengan 266 diantaranya sedan dalam hubungan heteroseksual sementara 279 lainnya berada dalam hubungan sesama jenis. Tim peneliti ingin memasukkan kategori terakhir sebagai minoritas seksual di mana belum banyak penelitian yang memperhitungkannya.

Hasilnya menunjukkan bahwa semakin banyak pasangan putus dan berbaikan, semakin mereka berkaitan dengan peningkatan depresi, kecemasan, dan tanda-tanda lain tekanan psikologis.

Umumnya, menurut para peneliti, siklus roda tersebut terjadi hampir di semua hubungan. Namun, mereka menemukan frekuensi yang lebih tinggi dalam hubungan pria-pria dibandingkan dengan hubungan wanita-wanita dan heteroseksual.

Memang melelahkan secara emosional ketika berinvestasi dan kehilangan seseorang lagi dan lagi di mana banyak pasangan yang terjebak dalam hal tersebut. Beberapa penelitian sebelumnya menyebutkan alasan pasangan kembali bersama adalah perasaan yang tak hilang, nyaman, dan persepsi yang berubah.

Beberapa kasus bahkan melibatkan lebih banyak alasan praktis seperti keamanan finansial, merasa bahwa mereka sudah terlalu banyak berinvestasi dalam hubungan, atau ingin kembali bersama karena alasan anak.

Menurut Monk, mantan pasangan yang ingin berdamai harus melakukannya berdasarkan dedikasi, bukan kewajiban.

"Temuan ini menunjukkan bahwa orang-orang yang menemukan diri mereka secara teratur putus dan kembali bersama dengan pasangan mereka perlu 'melihat di balik' hubungan mereka untuk menentukan apa yang sedang terjadi," katanya.

"Jika mereka jujur tentang pola itu, mereka dapat mengambil langkah yang diperlukan untuk mempertahankan hubungan mereka atau mengakhiri mereka dengan aman. Ini sangat penting untuk menjaga kesejahteraan mereka."

Dia juga menekankan pentingnya komunikasi, mencatat bahwa terapi pasangan dapat mendorong percakapan eksplisit tentang masalah yang mungkin telah disembunyikan dari satu sama lain.

(ELG)

Let's block ads! (Why?)

http://rona.metrotvnews.com/kesehatan/xkEnWvpK-hubungan-putus-nyambung-tak-baik-untuk-kesehatan-mental

No comments:

Post a Comment

Search

Featured Post

Comcast reluctantly agrees to stop its misleading “10G Network” claims - Ars Technica

Enlarge Comcast Comcast has reluctantly agreed to discontinue its "Xfinity 10G Network" brand name after losing an appeal of...

Postingan Populer